28 Juli 2011

Jalan Parlementer dan Gerakan Rakyat

Jalan parlemen melalui Pemilu pasti akan selalu dikukuhkan sebagai pemecahan masalah kekuasaan dan kedaulatan kelas yang berkuasa, entah oleh partai atau organisasi politik faksional borjuasi ataupun kelompok politik kiri. Bagi faksi-faksi borjuasi, parlemen adalah konvensi umum atau aturan politik yang diterima secara umum sebagai wadah mereka bersaing dan cara mereka menarik gerakan rakyat dalam wadah politik perwakilan yang bisa diredam dan dikendalikan kelas yang berkuasa. Bagi kelompok politik kiri, menerima jalan parlementer berarti membenarkan solusi politik borjuasi dan kelas yang berkuasa lainnya sekaligus mengiyakan konsolidasi kekuasaan mereka, entah secara konspiratif atau sebagai harapan kosong.

Sejarah jalan parlementer lebih banyak mengalami kegagalan, sebagai alat konsolidasi kekuasaan borjuasi dan sarana merebut kedaulatan rakyat. Mengaitkan perjuangan Chavez dengan solusi jalan parlementer di Indonesia adalah dalih (pretext) yang mengabaikan perbedaan kondisi masyarakat Venezuela dan Indonesia. Oleh karena itu, kelompok kiri manapun yang masih percaya pada jalan parlementer setelah lebih dari satu dasawarsa Reformasi adalah kelompok oportunis dan revisionis yang ikut mengukuhkan jalan politik kelas yang berkuasa dan tak pernah mau belajar dari sejarah masyarakat Indonesia atau masyarakat lainnya, bahkan kondisi mutakhir dari perkembangan gerakan rakyat di dunia. Penyebabnya, karena watak kelas borjuis kecil masih mendominasi solusi bagi gerakan rakyat dan semakin meredam kesadaran kelas dari sektor-sektor kelas pekerja.

Solusinya adalah kelompok kiri yang sejati dan gerakan rakyat secara umum harus belajar dari kesalahannya dan tidak mengulangi langkah yang keliru dengan meneguhkan langkah-langkah yang lebih berdaya, maju dan tepat dalam merebut kedaulatannya. Kesejatian gerakan ini berdasar pada pengalaman dan ilmu serta komitmennya pada kelas tertindas, sebab apa arti gerakan kalau bukan bertujuan pembebasan yang terjalin erat dengan kesadaran dan perjuangan kelas tertindas. Sementara, kesadaran rakyat yang telah maju dari berbagai pengalamannya, lebih berguna ketimbang dalih-dalih dan bujukan yang justru meredam pergolakannya dan memerosotkan kemajuannya. Dalam posisi inilah, jalan parlementer bisa saja menjadi salah satu sarana atau tahap dalam kondisi tertentu, bukan jalan utama dan satu-satunya dalam perjuangan rakyat merebut kedaulatannya. Dan “orang buta tak akan kehilangan tongkatnya dua kali.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan berikan komentarnya tentang artikel yang kami phosting dalam blog yang kami kelolah, baik itu kritikan, usulan, dan juga saran-saran yang tentunya membangun. mari kita budayakan diskusi menggali pengetahuan-pengetahuan baru.."belajar-berorganisasi-dan-bejuang"

Baca Juga Artikel Lainnya