1 Agustus 2011

Mengapa Kampus Membosankan?

KAMPUS....terlintas dibenakku adalah tempat dan ruang yang diisi oleh sekumpulan orang yang mengenyam pendidikan. Kampus secara fisik selalu diidentikkan dengan gedung yang terlihat megah, bersih, dan dikerumunin oleh mahasiswa yang melakukan kegiatan, baik kegiatan akademik maupun non akademik. Kegiatan demi kegiatan akademik yang berlangsung di kampus lama kelamaan ternyata menimbulkan pernyataan yang hampir serupa disetiap mahasiswanya, yaitu bahwa, KAMPUS SUNGGUH MEMBOSANKAN! Benerkah demikian??? Mari kita teliti satu persatu.

Pertama, kita dapat merasakan kebijakan Sistem Kredit Semester (SKS) yang diterapkan oleh Universitas hingga saat ini, ternyata sungguh memberatkan mahasiswa dalam menempuh roda perputaran akademiknya. Logika yang dibangun pejabat kampus adalah logika matematik, dimana syarat kelulusan dan ukuran kepintaran seseorang hanya diukur oleh nilai SKS. Seorang mahasiswa bisa dinyatakan lulus apabila telah melewati seratus lebih SKS.
Dari sejarah kemunculan kebijakan SKS, dapat kita lihat bahwa sistem tersebut untuk membendung sikap kritis mahasiswa. Pada era 1970an ketika terjadi demonstrasi besar besaran, dengan mengangkat isu korupsi dan penolakan terhadap Penanaman Modal Asing di Indonesia, yang mengakibatkan mahasiswa dikembalikan ke kampus masing – masing agar pola pikir kritis mahasiswa tersebut tidak merespon perkembangan situasi nasional. Akhirnya pemerintah menelurkan kebijakan yang memenjarakan kreatifitas dan daya kritis mahasiswa, yaitu Normalisasi Kehidupan Kampus dan Badan Koordinasi Kampus (NKK/BKK). Salah satu produk dari NKK/BKK adalah kebijakan SKS dan DO (drop out). Sistem tersebut ternyata berhasil membuat mahasiswa terelienasi dari kehidupan sosial rakyat. Mahasiswa tidak mempunyai waktu lagi memikirkan persoalan yang di hadapi oleh rakyat dan bangsa karena semakin ketatnya sistem perkulihan: SKS, DO, masa kuliah semakin pendek, tugas-tugas kuliah makin menumpuk dan sebagainya.

Kedua, dalam hal kebijakan, Universitas tidak pernah melibatkan mahasiswa sebagai kelompok paling besar jumlahnya. Birokrasi kampus selalu saja menjalankan program demi program yang memberatkan si mahasiswa tanpa pengetahuan mahasiswa itu sendiri. Alhasil, mahasiswa menerima dan menjalankan program dari kampus secara terpaksa dan tidak tahu akan apa yang dijalaninya. Yang mahasiswa sekarang pahami adalah bahwa mereka akan menjalani proses kebijakan dari kampus tersebut dan akan mendapatkan nilai yang terbaik tanpa mengkritisi lebih jauh apa dan mengapa proses kebijakan itu dapat berjalan.

Ketiga, sifat individualis yang lahir dari watak seseorang mahasiswa tersebut yang mengakibatkan kesenjangan akademik. “Aku adalah aku, dan kamu adalah kamu”. Itulah watak yang melekat di diri seorang mahasiswa dan sudah mendarah daging. Sikap individualistik tersebut terbangun dengan logika bahwa persaingan atau kompetisi yang diciptakan jalur akademik akan menjadikan seorang mahasiswa sebagai individu “Autis Akademik!!!”. Artinya bahwa mahasiswa sudah di setting untuk menjadi manusia yang teralienasi, hanya memikirkan dan sibuk dengan kepentingan pribadi tanpa memandang lagi ruang lingkup sekitarnya. Persaingan akademik akan menunjukkan bahwa dengan adanya kompetisi tersebut maka si mahasiswa yang maju dalam hal akademiklah yang menjadi calon-calon kaki tangan Kapitalisme. Seperti yang pernah dikatakan oleh Romo Mangun bahwa, Ribuan sarjana telah dihasilkan oleh kampus setiap tahun namun ribuan sarjana tersebut akan menjadi penindas baru bagi rakyat. Padahal, jika kita cermati lebih jauh dengan adanya kolektifitas dalam hal akademik maupun non akademik, ini yang kemudian menunjukkan rasa solidaritas dan memunculkan pandangan rasa senasib-sepenanggungan. Misalnya, mahasiswa si “A” bisa membantu temannya mahasiswa si “B” yang belum maju dalam bidang akademik tertentu sehingga mahasiswa tersebut bisa maju juga sehingga tercipta tatanan sosial di kampus yang saling peduli. Tidak ada kemudian si “anu” dan si “X” lebih memahami dan lebih cerdas dalam hal yang ditekuninya”.

Keempat, beban secara akademik yang menimbulkan tingkat kebosanan yang sangat tinggi dikalangan mahasiswa seperti tugas demi tugas yang diemban oleh mahasiswa dari dosen. Hal ini yang kemudian menambah beban secara moral dan psikologis mahasiswa. Tugas-tugas yang menumpuk menjadikan mahasiswa tidak dapat lagi mengembangkan pola pikirnya kritis dalam wacana non akademik, seperti organisasi, perkembangan situasi nasional dan belahan dunia lainnya, kepedulian terhadap lingkungan sekitar dan kehidupan sosial lainnya.

Fenomena ini dapat kita tarik jika kita melihat perkembangan mahasiswa saat ini. Budaya yang awalnya melekat ditubuh mahasiswa adalah pelopor perubahan kini telah terjangkiti budaya yang hedonisme, individualisme, konsumerisme dan mempunyai sikap yang apatis terhadap realitas. Tidak bisa kita salahkan jika fenomena ini hingga sekarang masih berlangsung di kalangan mahasiswa karena beberapa faktor yang diciptakan oleh sistem pendidikan yang ada sekarang. Ada banyak hal lain lagi yang menjadi faktor – faktor  penyebab kebosanan mahasiswa terhadap kampus. Dan itu dapat kita renungkan secara bersama apa yang menjadi faktornya. Yang pastinya adalah bahwa esensi dari pendidikan yaitu membebaskan manusia dari kebodohan dan keterdindasan. Dan tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945 esensi pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan manusia yang mempunyai perspektif pembebasan. Jika sistem pendidikan yang ada sekarang hanya mengekang kehidupan mahasiswa untuk berkreatifitas dan berpikiran progresif maka sejatinya pendidikan itu tidak akan pernah bisa mencerdaskan dan membebaskan kehidupan anak bangsa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan berikan komentarnya tentang artikel yang kami phosting dalam blog yang kami kelolah, baik itu kritikan, usulan, dan juga saran-saran yang tentunya membangun. mari kita budayakan diskusi menggali pengetahuan-pengetahuan baru.."belajar-berorganisasi-dan-bejuang"

Baca Juga Artikel Lainnya