6 Maret 2014

Golput Hak Rakyat, dan Golput Tidak Hanya Sekedar Golput

 Mengapa Harus Golput 

Dalam pesta demokrasi partai borjuis serta pemilihan umum 2014, baik itu pemilihan calon legislatif (Pileg), maupun pemilihan Presiden periode 20014-2019 sangat marak diperbincangkan mengenai masalah golput atau sering orang-orang katakan dengan golongan putih. sangat menarik memang memperbincangkannya apalagi negara saat ini dalam situasi pemilihan calon pemimpin, dan pemilihan calon wakilrakyat DPR, ditambah lagi dengan pilihan golput yang sangat tinggi, melihat situasi dalam system demokrasi setengah hati ini, yang telah dibangun beberapa tahun setelah jatuhnya rejim soeharto yang otoriter dalam menjalankan sebuah kebijakan, bahkan sampai sekarangpun traumatik rakyat masih terasa akan kerakusan dan kekejaman yang dilakukan rejim otoriter soeharto sampai rezim setelahnya terhadap rakyat, dan tidak menutup kemungkinan pelanjut dari orde baru seperti SBY (Demokrat) yang tinggal beberapa bulan masa rezimnya berjalan akan selesaidan juga Partai Golkar dan beberapa pecahannya seperti Partai NASDEM (SuryaPalo), Partai GERINDRA (Prabowo Subianto), dan Partai HANURA (Wiranto). Dari beberapapartai pecahan dari partai Golkar ini sangat bernafsu untuk maju sebagai calon presiden 2014-2018 nantinya. Bahkan yang paling berbahaya adalah pernyataan dari partai Golkar yang menyatakan “jika partai Golkar menang dalam pemilu,maka suasana zaman pemerintahan orde baru yang otoriter itu akan dibumikan atau dijalankan kembali sebagai sistem yang baik, aman dan damai” miris.  

System demokrasi yang telah dibangun selama ini, menemukan titik jenuh dalam mengambil sebuah keputusan bagi rakyat yang telah sadar akan manipulasi yang dilakukanpara birokrat dalam mengambil kebijakan yang tidak memihak kepada rakyat yaitu golput yang terorganisir. golput terorganisir disini adalah golput dimana rakyat menyatukan suara bahwa ketika bukan rakyat tertindas yang memimpin bangsa ini maka segala kebijakanpun tidak akan memihak kepada rakyat tertindasdan rakyat harus menyatukan ketidak sepakatan kepada system pemerintahan yang dikuasai para borjuis-borjuis yang hanya menjadikan rakyat sebagi budak-budak mereka di negeri-nya sendiri.

Pada pemilihan tingkat daerah beberapa waktu lalu banyak daerah yang mencapai angkagolput sampai dengan 40% dengan golput yang tidak jelas, apakah mereka golput karena faktor malas ataukah tidak memiliki kartu pemilihan untuk memilih  bahkan sampai pada kesadaran masyarkat yang  memang sudah tahu  dengan gerakan para borjuis yang mereka sudah tahu bahwa dengan kepemimpinan mereka hanya membuat masyarakat bawah tambah sengsara,ini menandakan bahwa tingkat golput sangat tinggi meskipun itu adalah golputyang tidak secara terorganisir dalam menyatukan suara untuk tidak memillih.

Golput yang banyak menimbulkan pro kontra di kalangan intelektual karena terkait dengan kepentingan mereka, golput yang di fatwahkan haram oleh majlis ulama indonesia (MUI) memperjelas bahwa sisem demokrasi yang kita bangun adalah sistem demokrasi ala para borjuis yang mementingkan kelompok mereka sendiri  bukan demokrasi dimana yang kita ketahu yaitudemokrasi dari rakyat untuk rakyat, bukan dari rakyat untuk kepentingan para borjuis, pernyataan Nur Hidayatullah yang menyatakan bahwa warga negara yang tidak memilih adalah iblis, Tantomy Yahya kader Partai Golkar bahkan ingin mempidanakan barang siapa warga negara yang golput (tidak memilih) pernyataan yang miris. golputadalah salah satu hak setiap warga negara pada umumnya untuk menentukan pilihan mereka sesuai dalam undang-undang yaitu masyarakat berhak memilih dan  dipilih bukan wajib memilih.

Bukan Hanya Sekedar GolPut, Rakyat Harus Membangun Partai Politik Sendiri

Jika menelusuri angka golput sepanjang sejarah pemilihan presiden dan pemilihan calon legislatif DPR masuknya era reformasi tahun 1999 angka golput 10,2%, pilegtahun 2004 23,3%, dan pada tahun 2009 menjadi 29% pemilih yang tidak menggunakan haknya, maka dapat disimpulkan kurangnya tingkat partisipasi masyarakat dalam pemilihan semakin meningkat tapi, dari sikap golput itu tidak akan membuat para elit politik borjuasi ini menghentikan pemilihan dan menawarkan kepemimpinan pada suara golput, tidak. Pada masa orde baru, tingkat partisipasi pemilih pada pemilu masa Orde Baru yang mencapai 80% hingga 90% baik-baik sajadan tidak dipermasalahkan. Di negara-negara lain angka golput bisa mencapai 50%sampai 60% diabandingkan di indonesia yang baru mencapai 40% angka golput.

Dengan mencantumkan angka-angka persentase golput diatas bukanlah sebagai bentuk ajakan untuk harus memilih. tetapi, dengan langkah golput yang kita pilihsebagai pilihan dengan alasan bahwa partai elit bojuis yang bertarung dalam kanca politik atau pemilihan nantinya adalah bukan perwakilan dari rakyattetapi perwakilan dari segelintir orang yang akan menjadikan bangsa ini jatuh dalam jurang kehancuran dengan membiarkan pihak asing menguasai sumber dayaalam negara dan menjalankan korupsi berjama’ah baik itu partai yang berlatarbelakang agama, nasionalisme, telah terinjeksi sebagai partai politik korup.

Pemilu tahun ini adalah pemilihan borjuasi yang akan melanjutkan kesengsaraan bagi rakyat secara luas. Bisa kita lihat dengan kasat mata, Partai manakah yang bukan sebelumnya menjalankan roda pemerintahan yang banyak menyensarakan rakyat, mencabut subsidi, menjual perusahan-perusahan milik negara, membiarkan perusahaan asing menguras kekayaan alam indonesia.? Dari sekian partai Politik tidak ada sama sekali yang menjadi perwakilan rakyat, dan perlu diketahui bahwa dari setiap pimpinan partai elit politik adalah pengusaha yang tentunya akan berbeda kepentingan dengan kepentingan massa rakyat.

Dengan melihat kenyataan daiatas, Kita tidak hanya bisa dengan sikap politik golput saja, jika partai-partai borjuis bukanlah solusi dari kesengsaraan rakyat, makarakyat harus membentuk partai politik sendiri, membangun kekuatan politik sendiri, tanpa harus diwakili oleh partai elit politik borjuis yang sedang bertarung. Massa rakyat, saatnya membagun organisasi-organisasi politik yang akan memihak pada rakyat itu sendiri. Belajar dari sejarah Kemerdekaan bangsaini dari penjajahan belanda. Bukan partai borjuis yang mengusir penjajah itu,tetapi rakyatlah dengan sikap politiknya mampu menumbangkan kekuasaan pemerintahan hindia belanda menjadi negara Republik Indonesia. saatnya rakyat indonesia sadar dan akan melawan segala bentuk pembodohan politik partai borjuis dan membentuk dan membangun politik sendiri, saatnya rakyat berpolitik sendiri, saatnya rakyat menentukan nasibnya sendiri karena tidak akan berubah suatu kaum jika bukan mereka sendiri yang mengubahnya, dan rakyat tertindaslah yang akan mewarisi kepemimpinan bangsa ini dan dunia ini.      

Oleh: Manusia yang Anti Terhadap Partai Borjuis dan Melawannya
Anggota: Komite Persiapan Sentra Gerakan Muda Kerakyatan (KP-SGMK)

sumber: KP-SGMK 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan berikan komentarnya tentang artikel yang kami phosting dalam blog yang kami kelolah, baik itu kritikan, usulan, dan juga saran-saran yang tentunya membangun. mari kita budayakan diskusi menggali pengetahuan-pengetahuan baru.."belajar-berorganisasi-dan-bejuang"

Baca Juga Artikel Lainnya