8 Februari 2017

PENDIDIKAN SUMBER PROFIT DAN ALAT HEGEMONI

Berangkat dari perbincangan dengan salah satu kawan di jejaring sosial mengenai kualitas pendidikan di Indonesia pada era kapitalisme neoliberalisme ini. Kita juga sedikit memperberbincangkan soal durasi kuliah yang tidak begitu efektif, dan banyak mahasiswa menurutku terjebak dalam lingkaran tersebut. Berlama-lama kuliah dianggapnya akan menambah kualitas ilmu pengetahuan didalam kampus, namun itu adalah mitos dan tidak pernah terjadi dalam prakteknya, yang ada malah akan menambah pendapatan dan keuntungan pihak pengelolah kampus, sebagaimana kita ketahui bersama dan mungkin sudah diketahui hampir seluruh mahasiswa yang ada dalam kampus, bahwa pendidikan telah mengarah pada komersialisasi dan kurikulum dalamnya dibawah kekuasaan hegemoni kapitalisme. 
 
Berlamah-lamah dikampus, yang katanya mematangkan pengetahuan dan pengalaman, kini tak efektif lagi, mengapa demikian? Itu dikarenakan sisitem pendidikan seperti aku katakan sebelumnya, pendidikan mengarah pada komersialisasi, bukan membuka pengetahuan baru akan tetapi, mengkonstruk pikiran kita tetap dalam lingkaran dan keinginan ideologi kapitalisme. Muncul pertanyaan berikutnya, yah.., kalo gitu kenapa harus kuliah kalo sisitem pendidikan sekarang ini berbauh kapitalistik? Ini sama halnya ketika orang berkata, yah..karena sisitem kapitalisme itu buruk, jadi kita gak usah memakai/mengkonsumsi produk-produk kapitalisme. Kita juga tidak sampai pada kesimpulan seperti itu, ketika kita membenci kapitalisme, maka kita juga harus membenci produk-produknya, akan tetapi ada batasan-batasan tertentu yang harus kita tolak, seperti akumulasi modal, produksi anarki, eksploitasi, ekspansi Negara dunia ketiga, menghilangkan demokrasi sejati, menimbulkan konflik sosial sampai perang antar Negara, melahirkan sisitem kompetisi yang tidak sehat, merusak alam, dan masih banyak lagi yang bisa ditimbulkan dari penerapan sisitem kapitalisme ini. Hal ini lah yang seharusnya di tolak mentah-mentah. Di perbolehkan mengkonsumsi, dan memakai hasil prodak kapitalisme juga bukan berarti menjadi konsumerisme yang hanya menguntungkan kapitalisme dalam mengakulasi modal. Pakailah yang sewajarnya dan sesuai kebutuhan, begitupun dalam dunia pendidikan, bukan berlama-lama, tetapi secepat mungkin.
 
Dari semua hal negative yang ditimpbulkan oleh ideologi kapitalisme ini di pertahankan, dan dimapankan dalam dunia pendidikan. Lembaga pendidikan sebagai alat ideologi telah diambil alih oleh kapitalisme. Jadi, apapun kebijakan dari kapitalisme ini, akan dipertahankan dan dibenarkan dalam dunia pendidikan sebagai pasar barang komoditi, dan juga sebagai lembaga sumber profit. Bukan hanya itu, pendidikan juga dijadikan sebagai lembaga penelitian oleh korporasi-korporasi besar untuk melihat potensi alam, pasar, dan sebagainya yang bisa mendatangkan profit. Hasil penelitian beberapa kampus yang dilakukan baik itu dosen, maupun mahasiswa, itu kemudian di publikasikan dan menjadi bahan untuk mengeksplotasi alam, dan masyarakat melalui hasil penelitian tersebut. Kapitalisme tidak harus mengeluarkan dana besar untuk penelitian dalam kepentingan pasar dan eksploitasinya, cukup dengan mengusai lembaga pendidikan, semuanya sudah terjawab, dan tanpa sadar kita telah membantu kapitalisme. Hal inilah yang kemudian dilakukan oleh Negara dalam sistem pendidikan. 
 
Pendidikan tinggi di Indonesia dibawah kontrol Negara yang telah kehilangan kedaulatannya karena rezim yang berkuasa, menjadi perpanjangan tangan dari kepentingan korporasi internasional. Negara-negara imperialis Menjadikan Indonesia sebagai ladang untuk merauk profit yang banyak, dan masyarakat yang cenderung konsumtif, beserta sumber daya alam yang kaya raya. Dengan mengejar keuntungan yang melimpah ruah, penindasan, perampasan hak, penghisapan, diskriminasi, dan lain sebagainya, telah menjadi pemandangan buruk dan kita tidak bisa berbuat apa-apa atas perbuatan semenah-menah para penguasa negeri ini. Mengapa demikian bisa terjadi? 
 
Perbuatan semenah-menah itu terjadi dikarenakan lembaga hegemoni telah sepenuhnya dikuasai oleh kepentingan kapitalisme, baik itu politik, ekonomi, bahkan sampai pada persoalan agama telah dikuasai kepentingan kapitalisme melalui bentuk politik tertinggi yang disebut negara. Negara dalam hal ini menjadikan Pendidikan bukan hanya sebagai penyumbang keuntungan yang melimpah kepada kapitalis, tetapi juga dijadikan sebagai lembaga yang terus-menerus mempengaruhi manusia, mengkonstruk pikiran manusia untuk tunduk dan patuh atas apa yang dilakukan oleh kapitalisme, menganggap penindasan, perampasan hak, penghisapan, sampai pada pelanggaran HAM, perang, sebagai hal yang wajar-wajar saja dilakukan. Saya pernah mengikuti suatu seminar membahas tentang pendidikan vokasi yang di selenggarakan oleh salah satu perguruan tinggi di Makassar, salah satu narasumber dari seminar tersebut mengemukakan bahwa pendidikan sejalan dengan ideologi penguasa, dan pendidikan Indonesia pernah menganut tiga ideologi yaitu; idelogi nasionalis, ideologi komunis/sosialis, dan ideologi kapitalisme. Sekarang ini pendidikan Indonesia menggunakan ideologi neoliberalisme-kapitalisme. Sangat jelas bahwa seorang Prof mengakui juga bahwa pendidikan Indonesia telah dikuasai oleh ideology kapitalisme, maka dari itu tujuan pendidikan Indonesia sesuai dengan kepentingan kapitalisme yang hanya mengejar profit untuk akumulasi modal. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, itulah wajah pendidikan Indonesia hari ini. 
 
Kepentingan Neoliberalisme-Kapitalisme Dalam Dunia Pendidikan 
 
Mengejar profit (keuntungan), layaknya barang komoditi yang diperjual belikan dengan menawarkan kurikulum dan pengetahuan yang kemudian akan berbentuk ijaza, begitulah fakta yang terjadi dalam dunia pendidikan yang telah dikuasi oleh ideology kapitalisme. Bukan hanya itu, lembaga pendidikan terkhusus pada pendidikan tinggi di Indonesia, telah bertransformasi menjadi industri jaza sejak masuknya intervensi asing melalui WTO (world trade organization) organisasi perdagangan dunia 1995 dengan mengelompokkan pendidikan sebagai industri jaza (khusunya sektor tersier).
Sektor ekonomi tersier mencakup industri-industri untuk mengubah wujud benda fisik (physical services), keadaan manusia (human services) dan benda simbolik (information and communication services). Karena pendidikan dianggap sebagai lembaga yang bergerak untuk mentranformasikan manusia yang tidak berpengetahuan menjadi berpengetahuan, menjadikan manusia yang kurang terampil menjadi terampil, maka pendidikan dikategorikan sebagai sektor ekonomi tersier pada industry jaza.
 
Ada juga hal yang menarik untuk dibahas dalam sistem pendidikan Indonesia bahkan Negara-negara lain mempraktekkan hal yang sama dalan menjalankan pendidikannya. Mengubah manusia dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang kurang terampil menjadi terampil. Dalam pendidikan untuk mencapai pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, haruslah melalui jenjang pendidikan yang telah disediakan. Jadi dalam logika sederhananya adalah kita, sejak pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi sudah menyumbang kepada kapitalis keuntungan yang besar dalam pendidikan. System pendidikan yang berjenjang ini sangatlah menguras dan tidak efektif dilakukan, tetapi mengapa itu dijalankan? 
 
Pendidikan berjenjang ini adalah salah satu strategi kapitalisme untuk mengklasifikasikan bukan hanya pada strata sosial, tetapi juga penentuan upah bagi pekerja ditentukan dari jenjang pendidikan. Bukan seberapa banyak yang diproduksi oleh buruh, dan seberapa kebutuhannya dalam mempertahankan hidup tapi berdasarkan jenjang pendidikan para pekerja/buruh yang menjadi salah satu syarat dalam penentuan upah. Buruh yang berpendidikan hanya sampai pada pendidikan dasar (SD) akan mendapatkan gaji dibawah gaji buruh yang berpendidikan yang berijaza (SMP), dan begitu seterusnya. Semakin tinggi sekolah maka akan semakin tinggi upah yang akan deterimah, begitulah logika yang tertanam dalam masayarakat hari ini. Secara tidak sadar, kita telah di giring untuk mengenyam pendidikan tinggi yang mahal itu untuk mendapatkan gaji yang layak. Namun sayang, tidak semudah itu karena hal ini adalah scenario kapitalisme yang sudah berjalan sejak lama. Tidak banyak buruh yang berijaza S1, yang banyak adalah SD, SMP, SMA/SMK, maka dengan otomatis, upah yang diterimah pun rendah. Beginilah politik upah murah di atur. 
 
Logika jenjang pendidikan ini, di dunia kapitalisme, atau para borjuasi yang ada, tidak mempraktekkan hal seperti itu, mereka telah sadar bahwa pendidikan yang berjenjang ini tidak begitu penting, contohnya saja mentri kelautan dan perikanan ibu Puji Astuti yang hanya berpendidikan atau berijaza terkhir SMP mampu menjadi mentri dengan gaji yang berpuluh-berpuluh juta, pengusaha apple juga bukan dari pendidikan yg berjenjang ini dan bahkan di kelurkan dari kampus mampu menghasilkan produk yang laku dipasaran dan menjadi pengusaha besar. 
 
Pendidikan kini telah diatur oleh orang-orang yang menginginkan pendidikan sebagai sarana merauk keuntungan, membentuk strata sosial, sampai pada penentuan upah bagi pekerja melalui jenjang pendidikan yang telah dilaluinya. Perdagangan ijaza sebagai sertifikat yang legal untuk mendapatkan pekerjaan bagi manusia telah diperdagangkan, baik dalam pendidikan maupun diluar pendidikan. Persoalan ini telah menjadi viral di masyarakat, dan seolah-olah itu sudah menjadi hal yang wajar-wajar saja dilakukan. Hal yang wajar-wajar saja ini, telah dibangun oleh ideologi kapitalisme dan di mapankan oleh beberapa alat ideologi seperti lembaga pendidikan, agama, dan sebagainya untuk membentuk, mengkonstruk pikiran manusia bahwa logika, atau ideologi kapitalisme sudah tepat dan benar adanya untuk manusia pakai dalam kehidupannya sehari-hari. Miris..! 
 
Liberalisasi disegala sektor ekonomi dan sosial dan politik telah berjalan dan mengakar kuat dalam setiap kebijakan politik penguasa. Lahirnya UU PT No. 12 tahun 2012 salah satu prodak undang-undang yang melegalkan lebiraslisasi sektor pendidikan. Sektor pendidikan mendapat perhatian khusus bagi para borjuis, baik nasional maupun internasional. Terbukti dengan lahirnya UU pendidikan tinggi ini, banyak Pendidikan Tinggi (PT) yang dengan syarat berdirinya dibawah standar, seperti kurangnya fasilitas kampus, bangunan yang tidak memadai, ruang kuliah yang terbatas dan sebagainya, namun, hal seperti ini tak menjadi persoalan, yang penting ada member, dan siap membayar untuk mengenyam pendidikan. Segala bentuk modus dalam mencari keuntungan, mengakumulasi modal, dilalui tanpa pempertimbangkan dampak kemanusiaan. 
 
Banyak orang tua mahasiswa yang menjadi korban, karena tidak sampainya akses pada pendidikan tinggi yang memadai sehingga, kampus abal-abal menjadi solusi untuk melanjutkan pendidikan. Sungguh mengerikan jika kita bayangkan betapa sia-sianya rakyat ini bernegara, yang seharusnya akses pendidikan menjadi tanggung jawab Negara. Tapi apa mau dikata kita dalam lingkaran syetan yang amat sangat menyesatkan. Pemerintah Indonesia seharusnya belajar pada Negara-negara yang telah menjalankan pendidikan gratis, dan tidak mengejar keuntungan, tetapi untuk kemajuan Negara, dan untuk kesejahtraan rakyatnya. Banyak kok Negara yang menjalankan pendidikan gratis, tidak percaya? Silahkan browsing internet dan cari sendiri. 
 
Ditulis Oleh: Bustamin Tato

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan berikan komentarnya tentang artikel yang kami phosting dalam blog yang kami kelolah, baik itu kritikan, usulan, dan juga saran-saran yang tentunya membangun. mari kita budayakan diskusi menggali pengetahuan-pengetahuan baru.."belajar-berorganisasi-dan-bejuang"

Baca Juga Artikel Lainnya