6 Februari 2017

World Class University Wajah Baru Globalisasi di Dunia Pendidikan Tinggi

Negara-negara imperialis telah melakukan penghapusan batas-batas Negara, dimana semua Negara bertanggung jawab atas permasalahan yang ada di dunia, karena kita adalah satu penghuni bumi, jadi tidak ada batasan diantaranya. Kampanye ini telah tersebar di berbagai Negara di dunia, khususnya Negara dunia ketiga atas nama “globalisasi” tanpa batas. Hal ini akan menjadi jebakan bagi Negara-negara dunia ketiga untuk membuka selebar-lebarnya kerang kebebasan bagi Negara-negara dunia pertama. Krisis telah melanda dunia pertama maka salah satu jalan untuk memulihkan krisis adalah menginvasi Negara-negara dunia ketiga. Intervensi beberapa Negara atas konflik di timur tengah adalah sebagai contoh daripada hasil globalisasi, Negara dunia pertama memiliki misi, menguasai dunia untuk menginternasionalisasi nilai lebih, melancarkan hegemoni kekuasaan, dan mengontrol Negara-negara yang telah terjebak dalam genggamannya. 
 
Propaganda akan “globalisasi” telah lama di lancarkan oleh Negara-negara kapitalis global, dimana pada awal-awal berlakunya globalisasi untuk merampas bahan-bahan mentah, membuka pasar dan organisasi dagang yang kuat dan hegemonic, sehingga sistem taransaksi telah diatur oleh organisasi dagang dunia seperti WTO (world Trade Organization) yang mengatur soal perdagangan dunia. Globalisasi sekarang telah mengalami evolusinya dengan menjajah Negara lain tanpa harus angkat senjata, namun menjajah dengan otak. Membangun opini, mempublikasikan hasil temuan yang berpihak pada mereka, membangun kampus-kampus sebagai pencetak generasi, menguasi media dan lain sebagainya. 
 
Menguasai dunia, angkat senjata menjadi jawaban kedua. Negara-negara yang tidak mau tunduk pada kepentingan dan keinginannya, maka jawaban kedua menjadi jalan terbaiknya yaitu angkat senjata dan mari kita perang. Dalam hal ini, saya tidak akan membahas tentang lahirnya perang untuk melanggengkan kekuasaan kapitalisme atas dunia, namun lebih kepada pendekatan hegemonik dimana dunia pendidikan menjadi alat paling ampuh untuk melancarkan hegemoni. Pendidikan, khsusnya pendidikan tinggi bukan hanya sebagai alat hegemoni dalam era globalisasi sekarang ini, namun juga menjadi sumber profit, dimana kapitalisme global melakukan akumulasi modal nya melalui perdagangan dunia pendidikan. Pendidikan, khususnya pendidikan tinggi telah di komersilkan melalui perjanjian GATS – WTO. Selain pendidikan tinggi, yang telah di giring kepada mekanisme pasar global, pendidikan juga telah diatur secara terstruktur, baik kurikulum yang akan menjadi bahan kajian, maupun penelitian-penelitian ilmiah yang dilakukan oleh kampus untuk mempertahankan kelas borjuis dan mempertahan sistem ideology kapitalisme, dan politik dunia sebagai dasar kehidupan umat manusia. 
 
Ada salah satu cirri khas yang menjadikan perguruan tinggi telah terjebak kedalam genggaman globalisasi yang di istilahkan sebagai World Class University. Dimana kampus-kampus terkemuka di Indonesia telah menjadi member, mengejar predikat sebagai universitas berkelas dunia. Untuk menggapai universitas berkelas dunia, tentunya harus meningkatkan sarana dan prasarana kampus, mampu mengelola kampus dengan biaya sendiri, dan kurikulum yang berstandar internasional harus menjadi prioritas utama yang harus dibangun. Hal ini yang kemudian kenapa kampus tambah mahal. Di Indonesia, telah menjalankan amanat dan keinginan dari globalisasi ini melalui regulasi seperti undang-undang No. 12 tahun 2012 tentang pendidikan tinggi. Peraturan ini merupakan perpanjangan tangan dari perjanjian perdangagagan dalam GATS dimana pendidikan adalah termasuk bagian dari sektor ekonomi yang mendatang profit bagi penggunanya, dan sebagai industri yang mengolah manusia yang tidak tahu menjadi tahu. Undang-undang No. 12/2012 tentang pendidikan tinggi, telah menabrak peraturan-peraturan sebelum seperti undang-undang Sisdiknas, dan konstitusi Negara. 
 
World class university adalah salah bentuk kebijakan kerja sama antara kampus dalam negeri dengan kampus luar negeri. Bentuk kerja yang di lakukan seperti joint curriculum and credit transfer (kurikulum bersama dan transfer kredit) yang semua nya menjadi modal dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang telah berjalan di indonesia. Meskipun kampus tingkat nasional belum ada yang tembus pada level World Class University (WCU) baik versi The Times Higher Education Supplement (THES), Webomatrics, maupun Academic Ranking of World University (ARWU) yang telah di rilis oleh statistik internasional mengenai kemajuan pendidikan tinggi dunia. Namun, perguruan tinggi indonesia tetap optimis mengelolah kampusnya untuk bisa terlibat dalam bentuk kerja sama internasional. Pendidikan dalam era globalisasi telah di internasionalisasi, dengan bersandar pada kompetisi perguruan tinggi. Kita harus tahu bahwa syarat berjalannya kapitalisme adalah kompetisi, tanpa adanya kompetisi kapitalisme tidak bisa berjalan. Pendidikan tinggi yang telah terjerumus kedalam jebakan globalisasi, mendorong pendidikan untuk berorientasi pada kepentingan globalisasi, tanpa mementingkan keinginan dan kebutuhan rakyat Indonesia. Perguruan tinggi di Indonesia mengejar standar internasional yang syarat akan kepentingan modal untuk mengusai kampus-kampus yang ada di Indonesia sebagai sasaran pasar bebas. 
 
Perguruan tinggi berskala internasional, telah lama di propagandakan pasca di sahkannya UU BHP yang mengatur tentang pendidikan tinggi Indonesia, namun semangat itu di luluh lantahkan oleh keputusan MK yang mencabut UU BHP tersebut. Niat, kapitalisme global dalam mengusai dunia pendidikan tinggi sempat terinterupsi karena banyaknya ketimpangan dalam UU BHP. Namun, tidak lama setelah itu SBY kemudian menyuarakan kembali semangat internasionale pendidikan tinggi dengan mengatur kembali regulasi pendidikan tinggi yaitu UU PT. yang isinya sama dengan undang-undang BHP. Hal ini membuktikan juga bahwa pemerintah kita tidak mau mengecewakan kapitalisme internasional dalam menguasai pendidikan tinggi di Indonesia, tetapi memilih mengecewakan rakyat Indonesia demi kepentingan kapitalisme global. Sangat miris..!
 
Perguruan tinggi yang ingin mewujudkan internasionalisme pendidikan tinggi harus lah mengikuti aturan hukum, atau mengganti pendidikan tinggi yang dikelolah oleh Negara (PTN) berganti status menjadi pendidikan tinggi yang berbadan hukum (sederajat dengan swastanisasi) pendidikan tinggi. Selama berlakunya undang-undang pendidikan tinggi, banyak kampus yang kemudian di lepas tanggung jawabnya oleh Negara, baik itu kampus yang telah menjadi uji coba masa BHP yang sudah terbukti gagal dan bertentangan dengan konstitusi Negara, kini mengulangi kesalahan yang sama demi memuaskan kepentingan kapitalisme dalam dunia pendidikan khususnya pendidikan tinggi. Lahirnya UU Nomor 12 Tahun 2012 tentang Perguruan Tinggi menjadi pijakan dasar bagi Perguruan Tinggi Negeri untuk beralih status menjadi PTN Badan Hukum. Ada 11 kampus yang mengikuti UU pendidikan tinggi, diantaraya: Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Institut Pertanian Bogor, Universitas Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Sumatera Utara, Universitas Airlangga, Universitas Padjadjaran, Universitas Diponegoro, Universitas Hasanuddin, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
 
Sebelas perguruan tinggi diatas ini, telah menjalankan amanat undang-undang pendidikan tinggi, dan memberlakukan otonomi kampus, dan melepaskan tanggung jawab Negara atas pendidikan. Maka pendidikan semakin mahal, karena tidak lagi di subsidi oleh Negara. Pemberlakuan otonomi kampus, khususnya persoalan ekonomi, dan lepasnya tanggung jawab pemerintah menuai protes dari mahasiswa sebagai penggerak eknomi kampus. namun, protes yang dilayangkan mahasiswa tersebut tidak mendapat respon malah beberapa kampus mengeluarkan kebijakan untuk memberlakukan Normalisasi Kehidupan Kampus (BKK), dimana demokratisasi didalam kampus mulai di bungkam, dan organisasi-organisasi kampus telah di koordinasikan melalui Badan Koordinasi Kampus (BKK) yang mengatur jalannya organisasi intra kampus. Beginilah wajah baru globalisasi (World Class University) dalam dunia kampus. Pertanyaan kebudian adalah, apakah kampus di luar negeri berlaku juga World Class University?
 
Kapitalisme akan selalu memusatkan modalnya pada satu titik akumulasi modal melalui monopoli perdagangan. Dalam ilmu pengetahuan yang telah menjadi barang komoditi berlaku juga hal demikian. Pendidikan tinggi di berbagai Negara telah diatur dalam badan akreditasi internasional, dimana semua kampus harus mengikuti aturan main untuk menggapai predikat akreditasi internasional. Ada beberapa lembaga perenkingan perguruan tinggi di dunia seperti QS, THE, Webometric, SJTU dan lainnya, merupakan lembaga yang mewakili kepentingan korporasi internasional yang menyasar kampus-kampus dalam negeri untuk meraih peringkat dari salah satu lembaga peringkatan kampus, dilain sisi juga bahwa lembaga akreditasi internasional ini tidak berlaku bagi kampus-kampus luar negeri, tapi di berlakukan untuk kampus di Negara-negara yang sedang berkembang agar mengikuti mekanisme kampus Negara-negara kapitalis. Tujuan ini adalah merupakan langkah strategis kapitalisme global menguasai pendidikan khususnya pendiidkan tinggi untuk melancarkan hegemoni kapitalisme di dunia. Dengan demikian akan mempermudah bagi korporasi internasional dalam melancarkan eksplotasi Negara-negara yang bergabung dengannya, dengan berbagai bentuk kerja sama penilitian, pengembangan ilmu pengetahuan, serta menjadi pasar komoditi. Pendidikan tinggi nasional juga di dorong untuk mendukung mekanisme ekonomi pasar bebas dunia dalam bentuk teori, penelitian-penelitian, serta tenaga kerja yang telah mahir dalam menjalankan ideologi kapitalisme. Maka dari itu, perguruan tinggi di Negara-negara kapitalisme tidak akan pernah mengikuti aturan main yang telah mereka atur sendiri, melain hanya sebagai jalan untuk mengusai pengetahuan, memperluas pasar bebas di dunia, serta menjadi ruang strategis untuk melancarkan akumalis, ekspansi, dan ekploitasi ke Negara-negara berkembang.
 
Melalui regulasi pendidikan tinggi, world class university menjadi semangat baru yang berdasarkan ketidak tahuan akan kepentingan Negara-negara kapitalis untuk menjajah kita melalui ilmu pengetahuan, yang tidak sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan rakyat Indonesia. Jadi wold class university merupakan wajah baru globalisasi dunia pendidikan untuk menguasasi Negara-negara yang berkembang, dan sebagai imbasnya, kita tidak akan bisa lepas dari cengkraman kapitalisme global. 
 
Ditulis Oleh: Bustamin 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan berikan komentarnya tentang artikel yang kami phosting dalam blog yang kami kelolah, baik itu kritikan, usulan, dan juga saran-saran yang tentunya membangun. mari kita budayakan diskusi menggali pengetahuan-pengetahuan baru.."belajar-berorganisasi-dan-bejuang"

Baca Juga Artikel Lainnya