6 Agustus 2011

Konsep Dasar, Bagan dan Penggerak Utama Sejarah

“… the real individuals, their activity and the material conditions of their life, both those which they find already existing and those produced by their activity…” (Marx-Engels, The German Ideology, hlm. 36-37)

“… individu-individu nyata, aktivitas mereka dan kondisi material dari kehidupan mereka, baik kondisi-kondisi material yang sudah maujud maupun yang diproduksi oleh aktivitas mereka…”


Teori ini tidak bertolak dari pikiran yang mengawang-awang, tapi bisa dibuktikan dalam kondisi masyarakat di manapun. Maksud konsepsi dasar ini adalah bahwa masyarakat itu terdiri dari individu-individu nyata, yang benar-benar ada, entah di zaman primitif ataupun di zaman modern, di mana pun di dunia ini, yang hidup atau pernah hidup dengan segala aktivitasnya dan materi-materi hidup yang memang sudah tersedia (seperti tanah dan isinya yang menyimpan gizi tumbuhan dan dikonsumsi untuk kehidupan manusia) dan diciptakan oleh manusia sendiri (misalnya, alat-alat bercocok tanam, atau bahkan tangan sebagai alat memetik buah dan makanan lainnya di zaman primitif).

Konsepsi dasar ini adalah implikasi dari pandangan materialisme historis terhadap masyarakat, yang meletakkan materi-materi dan aktivitas hidup manusia sebagai dasar dari keberadaan masyarakat dan perkembangan peradabannya.

Konsepsi dasar ini secara lengkap dinyatakan dalam bagan yang mencakup struktur dan kaitannya dengan suprastruktur dari keberadaan masyarakat sepanjang sejarahnya. Struktur adalah bentuk produksi yang menjadi dasar atau basis bagi keberadaan suprastruktur, yakni bahasa dan semua unsur budaya, yang mencakup ideologi, filsafat, moral, seni, politik, hukum, agama, adat istiadat, teori dan sebagainya.

Bentuk produksi sendiri meliputi tiga bagian: sumber daya produksi, relasi alamiah laki-laki dan perempuan atau reproduksi, dan relasi sosial produksi. Di dalam sumber daya produksi, terdapat tanah dan isinya sebagai tempat yang mengandung unsur-unsur gizi atau hara yang menumbuhkan tanaman bagi kebutuhan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya, dan kemudian mengandung bebatuan dan logam-logam yang digali dalam perkembangan peradaban manusia. Di dalam relasi (hubungan) alamiah, terdapat hubungan antar jenis kelamin dan apa yang bisa disebut “penyimpangan”nya (hubungan sejenis kelamin) yang menjadi dasar pembentukan keluarga dan kekerabatan. Di dalam relasi sosial produksi, terdapat pembagian hak milik atas sumber daya produksi, dan pembagian kerja, artinya karena ada pembagian hak milik atas sumber daya produksi, maka produksi dan konsumsi kemudian dibedakan. Penyebab pembagian kerja adalah ada kelompok yang hanya mengkonsumsi hasil produksi tanpa kerja produksi, dan ada kelompok yang harus kerja produksi sekaligus mengkonsumsi, dan dalam perkembangannya (masyarakat borjuis), ada kelompok yang hanya bekerja produksi, tapi tidak bisa mengkonsumsi hasil produksinya, misalnya, buruh pabrik sepatu Nike tentu saja tidak akan mampu secara umum membeli sepatu Nike yang tak beda jauh dengan upahnya sebulan.

Keluarga dalam kaitannya dengan produksi adalah rumah tangga sebagai satuan ekonomi dari kelompok manusia, bukan yang terkecil seperti dalam konsep ekonomi modern yang tidak historis. Konsep keluarga atau rumah tangga bersifat historis, tidak abadi dan melampaui sejarah. Oleh karena itu, bentuk keluarga tidak bisa dipahami dari sudut pandang masa kini, namun menurut sejarahnya. Jadi, di zaman primitif, ketika hubungan antar masyarakat masih belum terjalin karena luas wilayah yang belum dijelajah sebab pertumbuhan jumlah penduduk masih rendah, keluarga primitif bisa dilihat sebagai keluarga komunal yang hidup dengan kaidah moral perkawinan yang berbeda dengan keluarga zaman peradaban yang bersifat monogami, atau keluarga inti yang terdiri bapak dan ibu tunggal dalam satu rumah tangga. Dari bukti-bukti penelitian arkeologis dan sisa-sisa keluarga atau rumah tangga primitif di Amerika Selatan atau di suku-suku terpencil manapun, asal usul keluarga adalah kelompok manusia yang hidup bersama dalam melembagakan keturunan yang berbasis imperatif biologis (dorongan seksual alamiah), dan sistem kekerabatan serta mengelola kelangsungan hidup secara bersama-sama dengan bentuk pembagian hak milik dan kerja yang berbeda dengan zaman peradaban modern. Adakah hukum pemilikan tanah pada zaman primitif yang sama dengan saat ini ketika misalnya tidak ada lembaga hukum karena suprastrukturnya tidak ada, seperti misalnya lembaga pengadilan sampai tingkat mahkamah agung?

Lantaran pertambahan populasi, maka kebutuhan hidup pun berkembang sampai menuju ambang peradaban dengan segala kebutuhan produksi yang beragam. Perkembangan masyarakat ini bisa berjalan melalui perang dan barter, namun yang mengubah bentuk produksi dalam sejarah adalah pertentangan antara kelompok pemilik dan tak bermilik, kelompok pekerja dan kelompok yang mengkonsumsi saja. Karena itulah, ada zaman yang sudah dihapuskan bentuk produksinya dengan perjuangan dari kelompok yang tak bermilik sebelumnya, misalnya zaman perbudakan hampir sudah terhapus kecuali bentuk perbudakan modern yang lebih halus dan perdagangan manusia yang sekarang menjadi sorotan dunia internasional, karena bentuk produksi sudah berubah.

Bentuk produksi ini secara umum mengkondisikan, tapi bukan sangat menentukan, suprastruktur. Kondisi ini adalah syarat keberadaan dan perkembangan suprastruktur masyarakat, karena bisa saja bentuk produksi sudah berubah, tapi suprastruktur bertahan, misalnya feodalisme Jawa dicangkok (transplanted) pada kolonialisme Belanda, meskipun tentu saja terjadi penghapusan dan penyimpangan-penyimpangan dari beberapa unsur suprastruktur sebelumnya sebagai penyesuaian dengan kondisi dari bentuk produksi yang baru.

Demikianlah sekilas ilmu sejarah dari materialisme dialektik. Semoga bermanfaat…

Dipersembahkan pada para pejuang pemberani pada dasawarsa 1940-an di nusantara yang berjuang melawan penjajahan dari neo-kolonialisme dan imperialisme.

2 komentar:

  1. pro FMD: versi editing dan tambahan dari tulisan ini sudah dipost di FB... thanks

    BalasHapus
  2. terimah kasih bung hidayat atas tulisan-tulisan kritisnya.. sangat menjadi bahan analisa kami dsn..

    salam perubahan dan salam solidaritas.. bung

    BalasHapus

silahkan berikan komentarnya tentang artikel yang kami phosting dalam blog yang kami kelolah, baik itu kritikan, usulan, dan juga saran-saran yang tentunya membangun. mari kita budayakan diskusi menggali pengetahuan-pengetahuan baru.."belajar-berorganisasi-dan-bejuang"

Baca Juga Artikel Lainnya