5 Oktober 2011

CATATAN DARI JALANAN

ditulis oleh: Hidayat Purnama
Suatu kemarahan terpendam mengalir di jalanan, di antara massa yang tak terorganisir, di antara supir, dan rakyat jelata secara keseluruhan. Kemarahan ini mengarah pada sang Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Bagaimana bentuk kemarahan itu? Menurut seorang supir travel untuk tourist di Yogyakarta, dia mengantar seorang Turis asal Spanyol ke tempat wisata gunung Bromo. Dalam jam istrirahat, dia bertanya-tanya kepada sang supir, bahwa sebagai turis
dia sudah menelusuri perjalanan dari Sumatera, Kalimantan dan Jawa, yang didengarnya bahwa hampir setiap orang di perjalanan selalu mencemooh SBY, mulai dari tukang becak, penjual warung dan penjaga restoran, dan lain-lain. "Bagaimana kamu punya Presiden kok bisa menimbulkan kekecewaan luar biasa di hadapan rakyat?" tanya sang Turis.

Sebagai orang Indonesia di hadapan kritik seorang turis dari luar negeri ini, tentu saja sang supir malu karena punya presiden seperti itu, tapi dia tak bisa membantah karena memang kenyataannya begitu dan dia sendiri pun sangat benci pada SBY karena kasus-kasus kepemimpinannya yang sangat buruk.

"Kalian adalah bangsa yang besar, negeri yang sangat besar di bagian selatan Bumi ini, tapi kenapa kalian hidup seperti ini, melarat" lanjut si Turis, "Kalian punya presiden nama aslinya yang saya dengar dari orang-orang Susilo, tapi melihat kenyataan seperti itu, lebih bagus panggil aja dia SUSI..."

"Lho kenapa begitu mister?" sergah si supir.

"Dia itu shemale (banci), karena tahunya hanya bilang 'MARI KITA', dalam bahasa Spanyol, itu artinya BANCI!" Menurut keterangan Supir, MARIKITA dalam bahasa Spanyol berasal dari MARIPOSA = kupu-kupu, dan kupu-kupu malam dalam bahasa Spanyol MARKIKON,

Dengan menyimpan tawa, sang supir tak bisa memungkiri kata-kata yang tepat itu dalam diskusi selanjutnya dia bersama teman-teman lainnya menyatakan karena SBY sudah tidak punya keberanian membenahi korupsi di Partainya sendiri. SBY tidak mampu menyelesaikan kemelut di dalam Partainya yang menyangkut korupsi besar-besaran dan menghabiskan uang rakyat sementara subsidi yang berguna bagi kehidupan mendasar rakyat dicabut dari segala seginya (pangan, pendidikan, kesehatan, energi). Kalau SBY tidak bisa memimpin partainya, gimana dia memimpin lingkup negara yang lebih luas, dengan karakter dan sosok yang juga jahat dan korup?

Itulah gambaran kemarahan rakyat kepada SBY. Tidak hanya rakyat di dalam negeri, tapi beberapa unsur organisasi buruh migrant di Hong Kong juga turun aksi mencela kepemimpinan SBY.

Sesungguhnya pemerintahan SBY tidak hanya bersikap lemah dalam memberantas korupsi dan mencabut subsidi atas syarat IMF, tapi juga sudah mengijinkan semua usaha pertambangan luar negeri untuk mengeruk habis kekayaan minyak bumi dan mineral lainnya di Indonesia, sementara rakyat yang hidup di atas bumi Indonesia banyak yang miskin, berpendidikan rendah, terlantar dan merantau ke luar negeri untuk mencari nafkah. Kekayaan tambang inilah yang menjadi pokok kekayaan rakyat saat ini.

Jadi, kondisi revolusioner secara potensial telah terwujud di Indonesia, karena kemarahan rakyat atas kepemimpinan SBY, namun secara organisasi massa masih lemah, karena perubahan demi keadilan sosial bagi rakyat harus berdasar pada organisasi politik dalam merebut kedaulatannya. Dalam kondisi kekosongan inilah banyak tokoh muncul dalam mengritik SBY, namun terlalu jauh dari kepemimpinan massa dan sulit dipercaya untuk bisa berpihak pada massa dalam kata-kata dan tindakan selanjutnya. Menurut para supir travel, mereka pun tidak percaya pada pemerintahan sama sekali (0,0 %)

Solusinya, rakyat harus menyusun kekuatan melalui organisasi-organisasi dan bersatu untuk menyelematkan martabatnya dan merebut kedaulatannya dengan program politik jangka pendek dan menengah "mengganti SBY serta segala bentuk struktur dan menghapus undang-undang menyengsarakan rakyat (UU Naker, UU TKI, UU Tambang dan lain-lain) dan membentuk kepemimpinan kolektif dari buruh dan tani sebagai kekuatan politik rakyat yang mandiri untuk merebut kedaulatannya sebab pemerintahan sendiri terdiri dari kelas menengah yang sebagian besar sudah tidak bisa dipercaya mengurus negara, bahkan korupsi sudah merajalela.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan berikan komentarnya tentang artikel yang kami phosting dalam blog yang kami kelolah, baik itu kritikan, usulan, dan juga saran-saran yang tentunya membangun. mari kita budayakan diskusi menggali pengetahuan-pengetahuan baru.."belajar-berorganisasi-dan-bejuang"

Baca Juga Artikel Lainnya