30 Desember 2013

Kapitalisme, Media dan Negara

Reaksi dari berita skandal korupsi, baik korupsi dikalangan politisi, polisi serta pemerintahan dan, kuatnya pengaruh media telah membawa masyarakat kepada budaya individuslistik. Di salah satu tayangan media menceritakan bahwa untuk mengubah diri kita menjadi sejahtera kita harus bekerja keras. Penanaman watak kompetisi lewat media tidak terlepas dari mana media itu berasal, untuk kepentingan apa media itu dibuat. Ada keterkaitan yang kompleks antara media massa, politisi, ideologi sayap kanan, dan negara. Untuk mengerti itu semua kita harus kembali pada analisis marxist tentang sebuah negara.

Apa itu negara ?

Marilah kita mulai dengan pendapat Engels, Engels menyatakan bahwa Negara adalah Badan bersenjata untuk membela kepentingan properti serta alat pemaksanya yaitu polisi, tentara, hakim dan para pegawai sipilnya. Alat pemaksa negara ini muncul ketika pembagian masyarakat kedalam kelas – kelas, dan pada saat yang sama adalah ekspresi dari fakta bahwa kelas – kelas yang memiliki kepentingan yang berbeda dan ini pada gilirannya menimbulkan perjuangan kelas diantara mereka. Mesin Pemaksa ini berbeda dari kelas yang berkuasa tersebut, biasanya memberikan penampilan “berdiri diatas “ kelas”, dan menerapkan “hukum” yang cukup memihak dan obyektif. Negara sebagai semacam struktur permanen, yang kadang-kadang merekrut personel dari semua kelas didalam masyarakat. Tetapi tujuan utamanya adalah untuk melestarikan kepentingan properti dari kelas yang berkuasa – dengan mempertahankan monopoli kekerasan hukum disisi penguasa, dengan “mengatur” perjuangan antara kelas (dan perselisihan yang tidak terelakkan didalam kelas penguasa itu sendiri), dengan memproduksi dan mereproduksi kondisi keseluruhan yang memungkinkan eksploitasi kelas supaya berfungsi secara normal. Kelas penguasa, pada giliranya, bukan hanya terdiri dari “para politisi”. Mereka hanya hamba – walaupun sama didalam kediktatoran dan demokrasi, “hamba” ini mendapat pahala yang cukup mahal, serta menjarah kekayaan masyarakat dengan mengorbankan semua kelas. Sebaliknya, kelas penguasa itu sendiri terdiri dari para pemilik alat – alat produksi didalam masyarakat. Didalam masyarakat kita ini kelas kapitalis – para bankir – eksekutif bisnis, manajer dana dan pengusaha yang memiliki kontrol terhadap pabrik dan tanah serta lembaga keuangan yang memutuskan diantara mereka (dalam kompetisi satu sama lain) Apa yang diproduksi, berapa banyak yang diproduksi, dan bagaimana hasil produksi harus dibuang di pasar. Mesin negara terikat seribu benang dengan kelas penguasa – melalui pendidikan dan kondisi – kondisi material dari kehidupan (dalam kasus pemerintahannya), melalui kebutuhan untuk memajukan karir mereka, melalui korupsi dari mesin negara dengan individu kapitalis (meskipun hal ini tidak penting untuk pemeliharaan kekuasaan negara kapitalis, dan memungkinkan kontraproduktif), dari itu semua negara “mendamaikan kelas”. Namun, Lenin dan Antonio Gramci menunjukkan , setiap kelas yang berkuasa mempertahankan kekuasannya hanya melalui pamaksaan, dengan cara ini negara akan menghadapi keadaan permanen yaitu perang kelas. Dalam periode “normal”, kelas penguasa wajib untuk mendapatkan persetujuan dari kelas yang dimanfaatkannya untuk kekuasaan. Hal ini sebagian dilakukan melalui material yang nyata dan konsesi politik, contoh yang aada dalkam masyarakat kita adalah hak untuk memilih, hak akan hukum keberadaan serikat buruh dan hak mendapatkan standar hidup yang tinggi dari kelas menengah. Tetapi mengharuskan mereka untuk mengindoktrinasi kelas yang tereksploitasi serta menanamkan hegemoni dari ideologi dominan yang membuat masyarakat menerima bahwa sistem yang saling mengeksploitasi ini adalah sistem yang tidak terelakkan, permanen, adil dengan mengaburkan perbedaan kelas serta membuat fakta eksploitasi ini tidak terlihat. Ideologi dominan ini secara bersamaan “bersosialisasi” untuk memastikan bahwa dibawah masyarakat ini hak istimewa dari kelas yang berprivlase adalah sesuatau yang wajar dan dapat diterima sebgai suatu usaha kerja keras mereka.

Media dan perananya didalam masyarakat

Tempat ibadah, unit keluarga, sistem pendidikan, partai politik, dan nasionalisme serta gagasan negara bangsa – meskipun mereka sendiri-sendiri dan sering bertentangan – semuanya itu berperan didalam proses sosialiasasi. Tapi sebagian besar dari hari kehari dimainkan oleh media massa – sirkulasi surat kabar, stasiun radio, saluran televisi, dan sumber-sumber berita online. Ini semua adalah media massa kapitalis – atau lebih tepatnya, mereka yang mengontrol atas hal tersebut – yang menentukan parameter perdebatan sosial dan politik, memberikan stigmatisasi sebagai “ekstrimis” jika mereka beroperasi diluar batas, serta bermanfaat untuk melegitimasi untuk mereka yang beroperasi didalam batas ini sebagai sebuah penerimaan umum. Media massa sama juga memproduksi gangguan untuk massa : gosip selebriti, penghinaan kasual untuk orang-orang dari strata sosial tertindas, mempromosikan budaya patuh terhadap majikan,menanamkan obsesi sukses dalam hidup dengan mengorbankan orang lain, melestarikan mistisisme serta koran yang menanamkan irasionalitas seperti horoskop. Hubungan antara media dan negara bervariasi dari negara ke negara. Dalam kediktatoran seperti Orde Baru, media massa dikontrol langsung oleh negara. Jurnalis baik mereka yang dipegawai negeri atau tidak, mereka harus melewati kondisi dibawah sensor ketat. Politisi dan birokrasi menentukan apa yang diterima dan apa yang tidak. Para baron media itu sendiri, tentu saja, “pemilik alat produksi”, dan karena itu bagian dari kelas kapitalis yang berkuasa. Pengaruh mereka dan intimidasi terhadap para politisi adalah salah satu mekanisme untuk menjaga negara kapitalisme.
Tulisan ini diambil dari http://dialektikakkmi.wordpress.com  Ditulis dalam Analisis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan berikan komentarnya tentang artikel yang kami phosting dalam blog yang kami kelolah, baik itu kritikan, usulan, dan juga saran-saran yang tentunya membangun. mari kita budayakan diskusi menggali pengetahuan-pengetahuan baru.."belajar-berorganisasi-dan-bejuang"

Baca Juga Artikel Lainnya