18 Oktober 2016

MEMILIH JALAN INSTAN KARENA NEGARA TELAH GAGAL


Beberapa hari belakangan ini, indonesia dengan sejumlah media-media-nya, baik media cetak maupun elektronik, diramaikan dengan pemberitaan-pemberitaan yang menjadi problem sosial yang tak akan pernah ada habisnya, dan tak pernah akan selasai jika keterlibatan negara atas problem ini tidak ada, dan negara terkesan menganggap bahwa penomena-penomena ini biasa-biasa saja
terjadi di negeri ini. Keterlibatan negara sekalipun tidak akan menyelesaikan apa-apa, jika sistem pemerintahan dan kekuasaan atas negara masih berada ditangan penganut paham status quo. Karena persoalan ini tidak hanya dilihat dari sudut pandang bahwa karena masyarakat yang bodoh dan tidak berpengatahuan lebih sehingga terjerumus kedalam hal-hal instan, tetapi harus dipertanyakan juga, kenapa masyarakat melakukan hal demikian sehingga terjebak dalam hal-hal instan tersebut? Hal inilah yang seharusnya dilihat, karena problem sosial berdasar pada hal tersebut yaitu bagaimana manusia mempertahankan hidupnya.    
 
Mungkin yang membaca tulisan ini, sudah tahu dan telah mendengar berita-berita yang selalu menjadi tranding topik pasca berakhirnya kasus kopi bersianida, yang sampai beberapa episod mewarnai dunia pertelevisian. Kasus kopi ini kemudian di kudeta oleh kasus penggandaan uang oleh Kanjeng Dimas Taat Pribadi. Kasus penggandaan uang ini juga bukan kali pertama terjadi di negeri ini, bahkan sudah terjadi bertahun-tahun lamanya dan terus saja berulang kembali tanpa ada solusi kongkrit dari pemerintah sebagai penanggung jawab persoalan rakyat, ataukah memang negara, dalam hal ini pemerintah, telah melakukan pembiaran atau tidak mau tahu persoalan ini, sehingga memunculkan sikap acuh tak acuh akan masalah rumit yang tidak terselesaikan dengan menangkap pelaku dari penggandaan uang. Beberapa tahun sebelumnya juga terjadi penipuan yang berkedok penggandaan uang, sebenarnya, jika dilihat sepintas lalu, mekanisme penggandaan uang ini akan terlihat biasa-biasa saja dalam mekanisme pasar, namun akan menuai masalah jika uang yang diputarnya sudah banyak dan bertambahnya pengikut penggandaan uang tersebut. Hal inilah yang terjadi pada kasus Dimas Kanjeng sebagai tersangka penggandaan uang. 

Dalam tulisan ini juga, saya tidak akan menjelaskan, bagaimana si Kanjeng Dimas menggandakan uang membernya, namun mekanisme perputaran uang yang dilakukan adalah tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh pelaku Multi Level Marketing (MLM) dan sejenisnya, dan tidak jauh berbeda juga dengan kasus penyimpanan uang dengan janji bonus penambahan uang seperti yang dilakukan oleh yayasan KOSPIN di pinrang sulawesi selatan yang bermain pada pertumbuhan nilai mata uang, dan yang baru-baru ini di Jeneponto sulawesi selatan yang hampir sama apa yang terjadi di Pinrang, akan tetapi dalam tulisan saya ini, saya akan mencoba mengurai penomena-penomena tersebut, dan penyebab-penyebab kenapa banyak orang yang terjerumus kedalamnya. Mari kita telisik, dengan beragam macam sudut pandang yang anda gunakan, yang jelasnya, saya tidak akan melihatnya dari sudut pandang moralitas semata, seperti karena banyaknya masyarakat yang “tidak tahu” atau di masyarakat terjadi kemerosotan iman beragamanya sehingga terjerumus kedalam penipuan tersebut, akan tetapi, ada hal mendasar yang membuat beralutnya problem ini pada rakyat luas dan tidak ada suatu bentuk penyelesaian dari negara untuk rakyatnya. 

Pertama-tama mari kita mengkaji ulang apa yang menjadi penyebab utama, sehingga banyak orang yang memilih jalan pintas, dengan jalan penggandaan uang. Apakah negara telah gagal mensyejahtrahkan rakyatnya? Atau seperti apa?. Penomena ini yang sudah berjalan bertahun-tahun lamanya di negara ini, bukan karena tidak ada sebab akibatnya. Hal ini sudah barang tentu memiliki sebab akibat. Pertama-tama adalah persoalan negara yang tidak mampu mensejahtrahkan rakyatnya, dan yang kedua adalah doktrin kapitalisme yang mengakar dalam kehidupan masyarakat indonesia. 

Kegagalan Negara

Kasus penggandaan uang adalah bagian kecil dari problem rakyat indonesia dalam menjalani kehidupannya di negara ini. Negara yang penuh kekayaan alam, terjebak dalam logika penggandaan uang demi menghasilkan uang yang banyak. Mengapa demikian bisa terjadi dalam masyarakat yang hampir seluruh rakyat nya beragama? Padahal dalam agama apaun itu, tidak membenarkan keserakahan atau tidak membenarkan hal-hal syirik, tetapi mengapa demikian? Semua ini adalah karena persoalan ekonomi, persoalan bagaimana manusia bertahan hdiup, karena manusia diatur dalam sistem pemerintahan yang telah berjanji dalam konstitusi nya untuk mensejahterahkan rakyatnya, namun hal ini tidak pernah menjadi keseriusan tiap penguasa negeri ini. Jadi, negara dalam hal ini pemerintah, telah gagal mensejahterahkan rakyat nya. Hal ini juga menjadi tanda tanya besar, mengapa negara yang berpenduduk 250 juta jiwa ini tidak mampu mensejahterahkan rakyatnya, sedangkan mampu memperkaya beberapa negara yang menguras kekayaan alam negri ini, mengapa demikian? Inilah merupakan salah satu kegagalan negara. Pertanyaan diatas silahkan jawab sendiri, karena tulisan tidak untuk menjawab itu, tetapi hanya mencoba akal sehat kita untuk memanusiakan manusia lainnya. 

Penggandaan uang, dan rakyat menjadi korban menjadi kegagalan negara dalam mensejahterahkan rakyatnya, meski yang menjadi korban Kanjeng Dimas beberapa diantaranya adalah yang bertitel Prof., Dr., pengusaha, dan mafia tanah seperti penyetor terbesar dari makassar Hj. Najmiah sebanyak Rp 200 M, namun yang lebih banyak dari 3.700 pengikut Kanjeng Dimas, yang menjadi korban lebih banyak adalah rakyat dengan ekonomi menengah kebawa. Jika seorang Profesor, doktor, politisi, dan pengusaha tertipu oleh seorang Kanjeng Dimas dari Probolinggo Jawa Timur ini, bagaimana dengan rakyat yang awam pengetahuan? Hal ini yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara. Karena tidak adanya solusi dari pemerintah, sehingga rakyat memilih jalan pintas, yang solusinya adalah bukan hanya menangkap pelaku penipuan penggandaan uang, namun, menjawab problem sosial yang menggunakan logika kapitalistik dengan mengejar uang semata, namun hal ini telah dibiarkan oleh pemerintah dan melempar kesalahan pada rakyat. Bukan rakyat yang salah karena mengikuti penggandaan uang, namun yang harus disalahkan itu adalah negara yang tidak mampu menyelesai problem ekonomi rakyatnya. Negara ini terlalu banyak warga miskinnya, banyak yang terkena busung lapar, banyak penganggurannya, namun dilain sisi, negara juga melakukan penggusuran tanah rakyat, perampasan tanah rakyat, upah buruh yang rendah, inpor pertanian yang membunuh ekonomi petani, serta pendidikan yang mahal, sehingga angka kemiskinan semakin membengkak, dan lagi-lagi negara membiarkannya.

Ketika negara telah gagal mengambil langka yang solutif bagi problem ekonomi rakyat, maka akan bermunculan langkah-langkah solutif dari rakyat untuk menyelesaiakan masalah ekonomi sendiri yaitu dengan mencari usaha sendiri, dan membuka lapangan pekerjaan sendiri seperti menjadi tukang parkir, tukang ojek, bentor, yang bukan di peroleh dari inisiatif pemerintah membuka lapangan pekerjaan, namun dari inisiatif rakyat itu sendiri. Mungkin kita masih ingat kasus GAFATAR yang memiliki anggota 50 ribu orang, dan tersebar di seluruh wilayah indonesia, memberikan solusi bagi rakyat yang pengangguran dan membuka lapangan pekerjaan bagi rakyat, itu kemudian mendapat  tindakan intimidasi oleh negara lewat aparatus negara, digusurlah dari tempat mereka mencari nafkah, dibakar, dan dipulangkan ke kampung halamannya dimana dikampung nya sudah tidak apa-apa lagi, serta di tuduh mengikuti aliran sesat karena mencampur adukkan agama yang ada. Disini saya menekankan bahwa semua ini bukan lah persoalan rusaknya moralitas rakyat akan tetapi kegagalan pemerintah itu sendiri dalam mensejahterahkan rakyatnya, akan tetapi lagi-lagi pemerintah takut akan terlihat kegagalannya, rakyat dipaksa mengikuti apa yang kemudian di putuskan oleh negara yang secara ekonomi dan politik dikuasai oleh ideologi kapitalisme, bukan merupakan solusi kongkrti dari problem rakyat.  

Di kampung saya, makassar, terjadi pelarangan bagi warganya yang membuka lapangan pekerjaan nya sendiri karena dianggap membuat macet seperti jasa parkir dan bentor (becak motor). Sebanyak 2 ribu lebih tukang parkir yang tersebar di beberapa titik di kota makassar yang menjadi lahan penghidupan rakyat makassar akan hilang dengan adanya peraturan pemerintah yang melarang adaya parkir karena macet tanpa ada solusi lapangan pekerjaan yang lain di tawari oleh pemerintah itu sendiri. Jika pemerintah melarang warganya menjadi tukang parkir tanpa ada solusi alternatif suatu pekerjaan, maka 2 ribu tukang parkir akan menjadi pengangguran, begitu pun jasa bentor yang mendapat pelarang serupa yang jumlah ratusan orang. Problem ini tidak menutup kemungkinan terjadi juga di daerah-daerah lain, dan persoalan ini adalah hanya sebagian kecil, belum lagi penggusuran, upah rendah buruh, dan lain sebagainya. Dari sebua problem rakyat ini adalah merupakan tindakan negara untuk memiskin kan rakyat nya sendiri dan mensejahterahkan kelompok kecil seperti pengusaha. Kita bisa melihat dari kasus reklamasi pesisir pantai, siapa yang diuntungkan? Tentunya, yang diuntungkan adalah pengusaha, yang telah diberikan lahan oleh negara untuk membangun bisnis properti dan sebagainya. Jadi, negara bukan hanya gagal mensejahterahkan rakyatnya, namun membiarkan rakyatnya jatu miskin. Itulah yang di inginkan oleh sistem kapitalisme yang dijalankan oleh penguasa. 

Logika Kapitalisme  
     
Kita sudah dijajah oleh pemahaman yang kapitalistik, sejak nusantara di masuki bangsa-bangsa asing Eropa, sejak itu juga, segala kebijakan ekonomi-politik mengarah pada satu cara pandang yang kapitalistik. Namun, kapitalisme juga tidak serta merta mengubur watak feodal dalam masyarakat indonesia seperti masa-masa kejayaan kapitalisme di Eropa yang mengubur dalam-dalam mengabdian masyarakat pada seorang raja, dan memaksa memilih masyarakat mengabdikan diri pada negara yang dikuasai dan dijalankan oleh borjuasi. Sebenarnya, tulisan ini tidak akan berpanjang lebar membahas asal-usul kapitalisme, akan tetapi menjelaskan bagaimana logika kapitalisme berjalan dalam masyarakat indonesia dan kemudian itu di manfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab seperti Kanjeng pengganda uang tersebut. 

Masyarakat indonesia telah terjerumus kedalam logika pragmatis yang merupakan turunan pemikiran dari logika kapitalisme. Pragmatisme atau kata lain-nya mengejar harta sebayak mungkin hingga sampai menggandakan uang pun di ikutinya, merupakan salah satu tindakan buntutisme (jalan buntu) masyarakat di karena-kan tidak adanya alternatif atau solusi yang diberikan oleh yang menjalankan roda pemerintahan. Pemerintah malah membebaskan rakyat nya mencari kehidupan sendiri tanpa memberikan ruang untuk bagaimana melanjutkan hidup. Seperti yang saya bilang sebelum-sebelumnya bahwa pemerintah menjalankan sistem pemerintahan yang kapitalistik yang bersifat individualistik yang hanya mengejar pertumbuhan ekonomi semata, tanpa melihat bagaimana keadaan ekonomi rakyatnya yang semakin jatuh kedalam jurang kemiskinan, pemerintah malah sibuk dengan pembangunan infrastruktur yang diperuntuhkan untuk kepentingan pengusaha, bukan untuk rakyat. Penggusuran, perampasan tanah rakyat, politik upah murah bagi pekerja, dan lain sebagai nya menjadi langkah pemerintah untuk membuat kenyang para pengusaha, baik pengusaha asing maupun pengusaha lokal. Maka jangan heran jika memilih ikut dengan kanjeng dimas yang menggandakan uang ketimbang harus memilih tergusur dan tak punya uang nantinya. 

Jika masyarakat indonesia sudah berfikiran seperti ini, memilih menggandakan uang ketimbang mempertanyakan peran negara sesuai dengan konstitusi negara yaitu mensejahterahkan rakyatnya, maka keberhasilan logika kapitalisme telah memenuhi target, tinggal menjalankan dan memperkuat posisi para kapitalis pada negara yang ada dalam genggamannya. Jadi, problem ini pun bukanlah semata-mata karena minimnya pemahaman masyarakat soal agama seperti yang di sampaikan oleh MUI, namun problem ini di sebabkan oleh gagal nya negara dalam mensejahterahkan rakyatnya. Pengikut kanjeng dimas jika di amati, maka kita akan mendapatkan banyak ustasd, bahkan orang yang pendidikannya suda mendapat gelar Doktor, ikut menjadi pengikut kanjeng dimas. Ini berarti bahwa bukan karena rusaknya ke imanan agama nya seseorang, akan tetapi gagal nya pemerintah mensejahterhakan rakyatnya dan yang paling mendasar dari problem tersebut adalah karena berjalannya logika kapitalisme dalam kehidupan sosial masyarakat. 

Logika kapitalisme ini sangat sulit dibongkar dengan seberapa rajinnya orang shalat, mengaji, dan praktek spritual lainnya, akan tetapi, logika kapitalisme ini bisa dibongkar dengan banyak nya lapangan pekerjaan untuk rakyat, nasionalisasi aset vital negara yang dikuasai oleh asing, distribusi tanah untuk petani, stop penggusuran, pendidikan yang gratis dan bervisi kerakyatan. Jika tidak percaya silahkan di buktikan, dan jika negara tidak memberikan ruang untuk itu, maka negara telah menjalankan logika kapitalisme yang tidak manusiawi itu. Negara memang telah menjadi alat bagi kapitalisme untuk menjalankan logika kapitalisme dalam sosial masyarakat. Jika itu tidak bisa dihilangkan, maka pengganda-pengganda uang atau sejenis nya akan terus bermunculan dan akan lebih ekstrim lagi. 

Apa yang telah dilakukan oleh kanjeng dimas taat pribadi ini adalah suatu langkah untuk menjalankan logika kapitalisme yang juga dipertahankan oleh negara.      

Ditulis Oleh: Bustamin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan berikan komentarnya tentang artikel yang kami phosting dalam blog yang kami kelolah, baik itu kritikan, usulan, dan juga saran-saran yang tentunya membangun. mari kita budayakan diskusi menggali pengetahuan-pengetahuan baru.."belajar-berorganisasi-dan-bejuang"

Baca Juga Artikel Lainnya