23 Oktober 2016

Tugas Pemuda Progresif Revolusioner



“........ bahwa tugas-tugas dari pemuda secara umum, Liga Pemuda Komunis dan khususnya semua organisasi lain, bisa diringkas dalam satu kata tunggal, yaitu: b e l a j a r.”
V.I. Lenin (1920)

Pada saat sekrang ini, kebutuhan akan keberpihakan kaum muda dalam menyusun tatanan masyarakat baru dan melenyapkan tatanan lama yaitu kapitalisme yang dibangun dari penghisapan dan penindasan manusia atas manusia
lainnya adalah mengembangkan ilmu pengetahuan yang memihak pada klas tertindas, serta belajar dalam disiplin ilmu yang telah di pilih. Tentunya hal ini butuh perjuangan panjang dan kemampuan kaum muda memblejeti ideologi kapitalisme yang berdasar pada ilmu pengetahuan. Bagaimana membongkar ilusi kapitalisme? Tentunya akan di jawab dengan pengembangan ilmu pengetahuan, dan bagaimana mendapatkan ilmu pengetahuan? Tentunya dengan belajar. Meskipun lembaga-lembaga pendidikan hari ini di kuasai oleh ideologi penguasa yaitu kapitalisme, dan kurikulum-kurikulum yang memihak pada ideologi kapitalisme, akan tetapi bukan menjadi hambatan untuk bagaimana membongkar kebusukan, dan ke gagalan kapitalisme. Kapitalisme terbangun dari ilmu pengetahuan, dan kapitalisme dapat dihancurkan dengan pengembangan ilmu pengetahuan pula, serta mendorong klas pekerja melenyapkan dominasi kapitalis dalam hal ekonomi dan politik.

Kaum muda dalam peranannya membongkar ilusi kapitalisme, bukan hanya terfokus pada ke aktifan menyebar pamplet-pamplet tentang cita-cita sosialisme sebagai anti tesa dari masyarakat kapitalisme. Namun juga harus meningkatkan, serta mengembangkan ilmu pengetahuan yang tentunya memihak pada klas pekerja, dan klas tertindas secara umum. Dan hanya dengan belajar lah kita kaum muda mampu membongkar ilusi kapitalisme serta mampu menjawab kebutuhan-kebutuhan klas pekerja. Kesalahan kaum muda sekarang ini adalah karena menganggap dirinya sebagai agent of change sehingga segala tindakan dan sikapnya masih melekat watak-watak borjuis nya. Padahal yang menjadi soko guru perubahan sejati adalah klas pekerja yang berkontradiksi langsung dengan kapitalisme, klas inilah yang kemudian kita kaum muda, didorong untuk melenyapkan tatanan masyarakat kapitalisme, sembari kaum muda yang progresif, dan sadar, harus berpihak kepada klas tertindas, dan  mengembangkan ilmu pengetahuan yang tentunya juga berpihak pada kepentingan klas tertindas. Karena tanpa pengembangan ilmu pengetahuan, maka tatanan yang lama akan kembali berkuasa.

Kampanye sosialisme yang banyak di dengungkan oleh kaum muda progresif, jika saya boleh berpendapat, saya akan mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan adalah terdapat kesalah pahaman tentang apa itu sosialisme, sehingga mereka (kaum muda-mudi yang menganggap dirinya progresif-revolusioner) untuk mempropagandakan sosialisme, berdiri diatas dogma-dogma tanpa memahami apa yang di perjuangkan oleh sosialisme, bagaimana menggapainya, tidak dipahami secara jelas. Banyak mengutif tulisan-tulisan teoritik revolusioner, namun dalam prakteknya nol besar, dan terjebak dalam ilusi kapitalisme dan mempertahankan watak borjuis kecilnya. Sosialisme tentunya bukan hanya berangkat dari teori-teori revolusioner, bahkan bukan itu yang menjadi penentu, namun sosialisme di bangun berdasarkan fakta-fakta ilmu pengetahuan yang di tuangkan dalam teori-teori untuk kalian yang hanya ada dalam ruang-ruang bacaan bisa pahami dengan baik. Alam dan masyarakatnya senantiasa bergerak tanpa henti, begitupun seharusnya ilmu pengetahuan, harus lebih progresif, bukan malah stagnan. Sehingga memblejeti kapitalisme akan dengan lebih mudah.

Menjadi seorang sosialis, bukan hanya setiap saat mengkampanyekan sosialisme, dan juga bukan hanya bagaimana menyebar pamplet-pamplet tentang sosialisme, dan lain sebagainya. Namun, menjadi seorang sosialis harus juga dengan praktek,  Berani mempraktekkan sosialisme, atau menjalankan program-program sosialis. Bukan berarti dalam mengkampanyekan sosialisme di tengah-tengah masyarakat haruslah setiap saat berteriak dengan kata “sosialisme” yang hanya bermakna kosong tanpa ada praktek yang nyata. Tentang program sosialis sudah menjadi bahan bacaan, dan silahkan di praktekkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti pengembangan ilmu pengetahuan, karena tidak akan tercipta tatanan masyarakat sosialis tanpa di topang oleh ilmu pengetahuan yang lebih maju, dan juga sosialisme tidak dapat berdiri tanpa partisipasi aktif luas rakyat (demokratik), Itulah sosialisme ilmiah yang saya pahami. Mari kita mengecek, sudah berapa banyak ilmuan-ilmuan dari kalangan “kiri” yang menyerahkan setiap penlitian-penelitiannya, dan penmuan-penemuannya untuk kepentingan rakyat tertindas? Hal ini bisa kita hitung dengan jari, sedangkan penguasaan daripada penemuan-penemuan, penelitian-penelitian yang ada mengarah pada kepentingan klas kapitalis. Meningkatnya teknologi senjata, penyadapan, dan teknologi-teknologi lainnya hanyalah demi kepentingan klas kapitalis.

Pasca revolusi oktober 1917, lenin selalu menekankan pada kaum pemuda untuk memfokuskan diri pada pengembangan ilmu pengetahuan, untuk menopang keberlangsungan revolusi sosialis kaum buruh dari keping-keping cabang ilmu pengetahuan kapitalisme, ilmu pengetahuan yang dikembangkan sistem sebelumnya yaitu kapitalisme akan dihancurkan dengan pengembangan cabang ilmu pengetahuan demi memperkuat sosialisme yang telah diperjuangkan oleh klas buruh, namun bukan membuang secara keseluruhan perkembangan ilmu pengetahuan pada masa kapitalisme, namun kita harus mengambil ilmu pengatahuan, dan teknologi-teknologi yang memihak pada klas buruh dan membuang yang tidak memihak. Hal inilah yang kemudian tidak diperhatikan oleh kaum muda progresif sekarang ini, hanya sibuk dengan kampanye-kampanye, dan aksi-aksi tanpa ada dasar pengetahuan seperti apa sosialisme itu, dan bagaimana menerapkannya. Sosialisme yang dibangun kebanyakan kaum muda sekarang ini yang menyatakan diri nya sebagai kaum muda sosialis, adalah hanya berdasarkan pada dogma-dogma, dan menghafal setiap selebaran-selebaran tentang sosialisme, tanpa bisa memahami secara objektif sosialisme itu sendiri, bagaimana mengabstraksikan sehingga mengahasilkan objektivitas sosialisme.

Saya ingin mengatakan kepada seluruh kaum muda yang progresif revolusioner dalam tulisan ini, bahwa sosialisme, pada intinya bukan terletak pada pamplet-pamplet, dogma-dogma dari seorang sosialis yang sudah mengkonsumsi teori sosialisme dari literatur-literatur Marx, Engels, Lenin dan sebagainya., bukankah belum cukup apa yang telah mereka ajarkan kepada kita semua tentang bagaimana kerangka fikir secara dialektis untuk mengkaji dunia dan manusianya, bagaimana ekonomi politik, serta bagaimana sejarah manusia adalah sejarah pertentangan klas, dan seturusnya. Jika belum mampu maka, yang mereka (para penemu teori-teori revolusioner) sampaikan hanya akan bisa menjadi dogma-dogma, dan hanya menjadi dogengan semata, dan mencungkir balikkan teori sosialisme ilmiah nya menjadi teori sosialisme utopis. 

Organisasi kaum muda pada tahun-tahun 1960-an seperti organisasi Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia, menitik beratkan gerakan nya pada tri logi yaitu pertama study, dengan belajar, dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang sesuai dengan kepentingan klas tertindas harus menjadi prioritas kaum muda, yang kedua Organisasi, dimana organisasi menjadi wadah dalam menjalankan kerja-kerja kolektif dan sebagai garis pemisah antara pemuda-pemuda yang pro terhadap tatanan lama, dan yang ketiga revolusi, dimana dengan perubahan secara total tatanan masayarakat lama menuju masyarakat baru. Disini timbul pertanyaan, kenapa harus “belajar” yang diutamakan oleh kawan CGMI? Karena hanya dengan belajar lah kita bisa menemukan kegagalan-kegagalan kapitalisme, serta dengan belajar pula kita bisa mengembangkan disiplin ilmu pengetahuan kita yang tentunya ilmu pengetahuan yang memihak pada klas tertindas.

Sekarang ini, banyak kaum aktivis progresif  yang tidak tepat dalam metodologi perjuangannya, kaum muda lebih sibuk dengan stigma bahwa sebagai seorang aktivis progresif revolusioner harus lebih sering aktid aksi-aksi massa, dari memajukan disiplin ilmu kita di bangku kuliah, atau jika di bangku kuliah kita tidak mendapatkan disiplin ilmu yang kita inginkan, kita belajar di luar. Sekarang ini tidak ada ruang satupun lepas dari ilmu pengetahuan. Bukan berarti saya menolak aksi massa, bahkan saya sangat percaya dengan aksi massa, karena hanya dengan aksi massa lah kita bisa mencapai tuntutan-tuntutan kita untuk menumbangkan sistem lama, akan tetapi kita juga jangan sampai keblinger, aksi massa tanpa pengehuan tentang masa depan dan bagaimana mewujudkannya, hanya akan menjadi kegagalan yang terus berulang. Kita bisa berkaca dengan sejarah aksi-aksi massa kaum muda, apa yang dihasilkan? Silahkan baca sejarahnya. Bukan disini tempatnya untuk mengurai benang kusut itu. 

Ditulis Oleh: Bahril Red

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan berikan komentarnya tentang artikel yang kami phosting dalam blog yang kami kelolah, baik itu kritikan, usulan, dan juga saran-saran yang tentunya membangun. mari kita budayakan diskusi menggali pengetahuan-pengetahuan baru.."belajar-berorganisasi-dan-bejuang"

Baca Juga Artikel Lainnya